Kamis, 23 April 2015

CARA MENANAM GINSENG MERAH KOREA

CARA MENANAM GINSENG MERAH KOREA




I. PENDAHULUANTrend 'back to nature' pada industri farmasi, kosmetika, makanan dan minuman ringan, telah memacu peningkatan permintaan ginseng. Tingginya permintaan tersebut perlu diimbangi dengan teknologi budidaya tanaman yang memenuhi aspek K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian) seperti yang telah diterapkan PT. NATURAL NUSANTARA.

II. SYARAT TUMBUH
- Diutamakan di lahan terbuka. Tanah gembur, kandungan bahan organik tinggi, aerasi dan drainase baik.
- Keasaman (pH) tanah 5,5 - 7,2.
- Curah hujan 1000 - 2500 mm/th.
- Suhu berkisar 20ºC - 33ºC.
- Kelembaban 70% - 90%.
- Ketinggian tempat berkisar 0 - 1.600 dpl.

III. PENGOLAHAN TANAH

Siapkan Natural GLIO (10 kemasan /ha) dicampur pupuk kandang matang (25-50 kg/kemasan). Simpan dalam karung terbuka selama 1-2 minggu.
Tebarkan dolomite / kapur pertanian (2-4 ton/ha) pada lahan yang masih terbuka paling lambat 2 minggu sebelum tanam.
Luku dan garu segera setelah dolomit disebarkan. Diamkan sekitar 1 minggu.
Buat bedengan membujur arah timur-barat, lebar bedengan 100-120 cm, tinggi 40-60 cm. Jarak antar bedengan 40-50 cm. Diamkan sekitar 1 minggu.
Buat parit mengelilingi lahan lebar 40-50 cm, kedalaman 50-60 cm.
Setelah 1 minggu, gemburkan permukaan bedengan secukupnya.
Tebarkan hasil campuran Natural GLIO dan pupuk kandang merata pada permukaan tanah.
Tambahkan pupuk kandang matang 20-40 ton/ha merata pada permukaan bedengan. Jika tidak ada pupuk kandang, penggunaan POP SUPERNASA, POC NASA dan HORMONIK dapat menggantikannya
Siapkan larutan induk POP SUPERNASA (1 botol/3 liter air), aduk hingga larut. Dosis POP SUPERNASA 5 botol/ha jika pakai pupuk kandang sesuai dosis anjuran atau 10 botol/ha jika tidak pakai pupuk kandang. Dari larutan induk POP SUPERNASA 3000 cc atau 3 liter, diambil 200 - 300 cc dicampur dengan 0,25 kg NPK majemuk lalu dilarutkan atau diencerkan dalam 50 liter air.
Dari hasil 50 liter tersebut siramkan pada permukaan bedengan, caranya pakai gembor 10 liter / ± 8 m panjang bedengan. Atau 200 - 300 cc/lubang tanam.
Tebarkan hasil campuran Natural GLIO dan pupuk kandang merata di permukaan bedengan. Atau dalam setiap lubang tanam.
IV. PEMBIBITAN DAN PENANAMAN

Diutamakan pakai bibit dari setek batang.
Gunakanlah induk tanaman sehat, tidak terindikasi gejala serangan hama dan penyakit, umur tidak terlalu muda dan terlalu tua, segar dan tidak layu, warna cerah/mengkilap.
Bibit hasil setek diistirahatkan/disimpan di tempat lembab selama 2 - 4 hari.
Sebelum tanam, pangkal bibit dipotong miring ± 45º menggunakan pisau tajam dan bersih.
Pangkal bibit direndam 20-30 menit dalam larutan POC NASA (1-2 ttp) + HORMONIK (0,5-1 ttp) + 1-2 sendok makan Natural GLIO per 10 liter air.
Bibit dikeringanginkan ± 1-2 jam.
Penanaman dilakukan sore hari, jarak tanam 50 x 60 cm atau 60 x 70 cm.
V. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyiraman
Pemberian air tidak boleh berlebihan ataupun kekurangan. Usia 0 - 21 hst (hari setelah tanam) disiram tiap hari secukupnya. Sejak usia ±100 hst penyiraman dikurangi atau dihentikan.

Penyulaman
Jika diperlukan, hingga 15 hst.

Pemupukan susulan:
Pengocoran larutan pupuk : NPK majemuk 0,25 kg + 50 liter air. Berikan 200-300 cc/lubang tanam setiap 2 minggu sekali hingga usia 100 hst.
Penyemprotan pupuk lewat daun dilakukan 1 minggu sekali hingga 100 hst, pakai 3 - 5 tutup POC NASA + 1-2 tutup HORMONIK dalam tangki 14 atau 17 liter.

Penyiangan, pendangiran dan pembumbunan
Dilakukan bersamaan setiap 2 minggu sekali terutama pada usia 14 - 65 hst.

Perempelan I
Pada 20 hst disisakan 2-3 batang utama. Perempelan selanjutnya adalah perempelan tunas ketiak daun setiap 2 minggu sekali hingga usia 65 hst.

VI. HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
4.1. Hama
4.1.1. Bekicot
Biasanya aktif pada malam hari, dan perlu diwaspadai keberadaannya. Pengendalian dengan cara dikumpulkan dan dimusnahkan.

4.1.2. Ulat
Banyak jenis ulat yang menyerang pada ginseng terutama ulat grayak (Spodoptera sp.), Ulat penggulung daun (Lamprosema sp.), dan ulat jenis lainnya. Pengendalian dengan cara mematikan ulat, semprot Vitura atau Pestona dan alternative terakhir dengan Insektisida kimia.

4.1.3. Uret/Lundi
Hama ini menyerang akar bahkan bisa ke umbi sehingga tanaman lama kelamaan bisa layu dan akhirnya mati. Pada saat tanam bisa ditaburkan insektisida granular di sekeliling tanaman

4.2. Penyakit
4.2.1. Penyakit Busuk Leher Batang
Penyebabnya jamur Phytium sp. atau Sclerotium sp. Biasanya di awal tanam ginseng mengalami pembusukan yang disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan. Leher batang atau pangkal batang tampak berwarna kelabu atau kecoklatan, lunak kebasahan dan melekuk ke dalam. Jamur ini dapat menjalar ke bagian umbi, lama-kelamaan daun tampak layu. Pengendalian dengan cara pengaturan drainase, kebun tidak becek dan tidak lembab. Sejak awal sebelum tanam gunakan Natural GLIO.

4.2.2. Penyakit Busuk Umbi
Penyebabnya jamur Phythopthora sp. Gejalanya daun yang mulanya hijau berubah menjadi kuning. Lama kelamaan menjalar hingga menyebabkan kematian. Bila tanaman dicabut pada pangkal umbi/batang tampak bulu-bulu putih yang kemudian berubah menjadi bulat-bulatan dan akhirnya berubah menjadi coklat tua sampai hitam. Pengendalian gunakan Natural GLIO sebelum tanam, jaga kelembaban tanah dan alternative terakhir dengan fungisida sistemik

4.2.3. Penyakit Layu
Bisa disebabkan jamur Fusarium sp. atau bakteri Pseudomonas sp. Tetapi kebanyakan disebabkan oleh jamur Fusarium. Mulanya tulang daun menguning, kemudian menjalar ke tangkai daun dan akhirnya daun menjadi layu. Pengendalian dengan cara sebarkan Natural GLIO sebelum tanam dan celupkan stek sebelum tanam ke dalam POC NASA dicampur Natural GLIO.

VII. PANEN
Tanaman Ginseng dipanen umur 4 - 5 bulan tergantung pertumbuhan dan keadaan umbi. Cirinya; batang semula hijau berubah merah, daun menguning dan mulai rontok, berbunga dan mengeluarkan biji, umbi bila didangir sudah cukup besar (diameter diatas 1 cm).
Pemanenan pada pagi hari saat kondisi cerah, tidak hujan dan daun tidak berembun lagi, tanah kering.
Umbi dipanen sekaligus dengan menggunakan garpu tanah untuk menggemburkan permukaan tanah.
Sebelum umbi dicabut pangkal batang tanaman dipangkas dan dipisahkan dari batang serta daunnya. Pencabutan umbi harus dilakukan hati-hati, jangan sampai umbinya putus dan tertinggal dalam tanah. Umbi yang telah dicabut dibersihkan dan dibawa ke tempat teduh untuk penyortiran.


RED GINSENG / GINSENG MERAH KOREA TUMBUH BAIK DI INDONESIA

 RED GINSENG / GINSENG MERAH  KOREA TUMBUH BAIK DI INDONESIA



MENURUT data penelitian di Intitute Herbal Medicine Beijing diketahui, bahwa penggunaan tanaman perdu ginseng untuk keperluan pengobatan ternyata sudah dilakukan lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Sementara keberadaan tanaman ini di muka bumi, sudah ada sejak 150 juta tahun yang lalu. Pada tahun 2.000 SM, Kaisar Chochi Kui dari Cina Selatan (sebelum Cina bersatu) menyatakan bahwa ginseng adalah tanaman “akar kehidupan” yang sangat manjur mengobati berbagai jenis penyakit pada manusia.


Berdasarkan ciri-ciri khasnya, para ahli obat herbal itu mengelompokkan tanaman itu dalam tiga jenis Ginseng, dan tujuh kelompok adaptogenik. Pengelompokkan ini, berdasarkan tanda-tanda agronomis dan tempat asal tanaman. Pertama adalah, kelompok “Ginseng Asia” (Panax ginseng), meliputi ginseng yang dihasilkan dari Korea, Cina, dan Jepang. Kemudian yang kedua, “Ginseng Siberia” (Eleutherococcus senticosus) yang dihasilkan dari daerah Siberia, Rusia. Dan yang ketiga adalah, “Ginseng Amerika” (Panax quinquefolius), yang dihasilkan dari Amerika Utara.

Penelitian pertama secara ilmiah, dilakukan oleh Prof. Lazarev dari Rusia, tahun 1947 pada tanaman ginseng dari Siberia. Ia menemukan sejenis alkaloid “aneh”, yang mengandung daya penyembuh luar biasa terhadap penderita penyakit jantung.

Hal sama juga dilakukan oleh DR. Breznev dan Dardimov, tahun 1958 yang mengadakan penelitian invitro terhadap beberapa jenis binatang yang diberi ekstrak ginseng. Ternyata tanaman ginseng dari Siberia, memiliki sejenis zat yang bersifat adaptogen lebih kuat dibanding yang lain. Kemampuannya yang bersifat adaptif itu, dapat menyeimbangkan fungsi tubuh dan mempengaruhi syaraf-syaraf yang sudah lemah menjadi normal kembali.

Penelitian invitro lainnya, juga dilakukan oleh Departemen Pathology, Fakultas Kedokteran, Universitas Okayama, Jepang. Para peneliti menemukan, bahwa Ginseng dari Asia memiliki daya adaptogen yang menghambat formasi hydrokxyl radikal bebas. Unsur ini merupakan semacam zat, yang merangsang sel dalam tubuh menjadi berubah ganas, yang kemudian kita kenal sebagai sel kanker.

Dalam observasi terhadap 1.987 pasien yang terserang berbagai kasus kanker, sekolah kedokteran itu menggunakan ekstrak “Ginseng Asia” selama satu tahun penuh.

Para pasien itu berhasil diselamatkan dari bencana kematian. Bahkan penggunaan jangka panjang selama 20 tahun lebih, untuk sekadar berjaga-jaga ternyata tidak ada efek samping. Beberapa kasus kanker yang diteliti itu, meliputi kanker usus, mulut, lever (cyrosis), rahim, dan pankreas.

Hal yang sama, juga dilakukan kepada 36 pasien berpenyakit gula (diabetus militus), dengan memberikan ekstrak ginseng Asia sebanyak 100 mg s.d. 200 mg selama delapan minggu. Ternyata zat yang dikandung ekstrak ginseng tsb, mampu meningkatkan ketahanan tubuh. Memperbaiki glycosilat haemoglobin, dan mereduksi dengan cepat glukosa dalam darah hingga normal kembali.

Para ahli obat herbal juga mengamati kemampuan “Ginseng Amerika” (Panax quiquefolius). Hasilnya memperlihatkan, bahwa tanaman asal dari Amerika Utara ini mengandung unsur Yin yang sangat kuat. Kandungan alkaloidnya, hampir sama dengan “Ginseng Asia”. Sedangkan pada observasi pengobatannya, ginseng ini memiliki kemampuan yang signifikan dengan ginseng-ginseng yang diperoleh dari negara Asia.

Sedangkan penelitian pada “Ginseng Siberia” (Eleutherococcus senticocus), menurut para pakar ginseng sebenarnya tanaman tsb. bukan ginseng asli tetapi masih satu famili. Namun sebutan ginseng itu sudah kadung terpatri, karena memiliki fungsi dan kemampuan yang sama dengan tanaman ginseng dari Asia maupun Amerika.

Keluarga ginseng ini terdapat di dataran Siberia yang hampir sepanjang tahun tertutup salju. Tanaman ini juga terdapat di Asia, Cina Utara, Jepang Utara, dan Korea yang datarannya sering tertutup salju.


Ginseng Indonesia

Sebenarnya, yang namanya ginseng Indonesia itu hingga saat ini dalam berbagai literatur tidak ada. Ada juga tanaman ginseng-ginsengan yang masih satu keluarga, yang kemudian dinamakan kolesom. Karena memang secara agronomis, tanah di kita ini kurang cocok untuk ditanami ginseng. Dalam habitat aslinya, memang ginseng tumbuh di dataran khusus bertanah remah berpasir, mudah menyerap air, memiliki pH 6 dengan elevasi ketinggian antara 600 m dpl (di atas permukaan laut) s.d. 1.200 m dpl.

Secara agronomis, ginseng asli memang tidak mungkin tumbuh baik di Indonesia karena faktor kendala alam. Namun menurut Kim, petani Korea yang memberi bibitnya, ternyata kandungan akar umbinya lebih baik dibandingkan dengan aslinya. Yang membedakan di antara dua jenis “Ginseng Korea” itu, dari bentuk fisik tanamannya.

Pada jenis Phytollacca, tanaman perdunya lebih tinggi tapi umbinya besar. Sebaliknya, dari jenis Toraji, rumpunnya lebih kecil dan umbinya pun kecil-kecil. Di pasaran industri jamu, jenis yang terahir ini yang banyak dibutuhkan untuk campuran obat dan dikonsumsi dalam keadaan segar seperti kita memakan lobak.

Tanaman ginseng yang dikembangkan oleh Hidayat itu memang diberikan oleh Kim, petani dari Korea, yang bekerja atau dikontrak di pembibitan ulat sutra oleh pengusaha Indonesia tahun 2001. Ia bertemu dengan Hidayat, di salah satu pameran di Jakarta. Lewat pendekatan dan beberapa kali pertemuan dengannya, Hidayat ahirnya diberi bibit sebanyak lima gram. “Waktu itu bulan Agustus tahun 2001, dan dicoba dikembangkan di persemaian dengan metode penanaman seperti stek daun tanaman teh,” katanya.

Upayanya itu tidak sia-sia. Kini dari bibit lima gram, sudah menjadi tanaman sebanyak 35.000 rumpun. Sekira 15.000 rumpun di antaranya sudah ada ditanam. Sedangkan 20.000 rumpun lagi, kini siap tanam di lahan seluas 1.500 meter persegi. “Tanaman saya sudah ditunggu pembeli dari Palembang, untuk memasok restoran Jepang dan Korea yang membutuhkan sedikitnya 500 kg per bulan”,katanya. Di pasaran ekspor, harga setiap kilogramnya adalah 10 dolar AS. Dalam bentuk segar, langsung dari kebun,” tuturnya bangga.

Kini Ginseng Korea itu, ternyata bisa tumbuh baik dengan modal sederhana dan murah. “Pasarnya pun tidak sulit, karena pembeli sudah menunggu. Hanya untuk sukses jadi petani ginseng, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran agar tanaman tidak gagal. Setelah itu, bibit ginseng terus bergulir dihasilkan dari tanamannya itu sendiri,” katanya.  

“Untuk mencapai hasil grade tanaman seperti sekarang, menurut Kim, di Korea dibutuhkan waktu hingga 10 tahun. Tetapi di Indonesia, hanya dengan 10 bulan bisa diperoleh dengan kadar kandungan alkaloid yang lebih baik dari negeri asalnya di Korea,” tuturnya. Untuk meyakinkan isi kandungan alkaloidnya, Hidayat tidak segan-segan mengeluarkan uang dari koceknya untuk diuji di laboratorium Balitro (Balai Penelitian Rempah dan Obat) Bogor.

Sebuah sertifikat kini sudah ia peroleh, dari lembaga penelitian resmi,yang menyatakan bahwa tanaman yang dikembangkannya adalah ginseng asli dari Grup Asian Ginseng. Setingkat dengan ginseng, yang dihasilkan oleh petani Korea. Dengan keberhasilan petani Sukabumi ini, satu lagi komoditas luar yang mampu diadaptasikan dengan cuaca dan kondisi negara kita, sebagai sumber devisa baru. (Dedi Riskomar/”PR”)***Jumat, 19 Maret 2004


RED GINSENG / GINSENG MERAH KOREA


KOMPAS.com - Bukan tanpa alasan jika Korea Selatan disebut sebagai negeri ginseng. Di negara ini tumbuh subur tanaman ginseng merah yang tersohor khasiatnya.

PERTANIAN GINSENG MERAH JAKARTA
Harga ginseng memang tidak murah, ginseng merah korea konon merupakan jenis yang paling mahal. Menurut William Adi Teja, ahli obat tradisional Tiongkok, harga satu kilogram ginseng merah hampir mencapai Rp 2 juta.  Sementara itu ginseng putih biasa, harga perkilonya Rp 900 ribu. Tapi harga tersebut belum seberapa dibanding dengan ginseng liar yang harganya mencapai 200 juta rupiah perkilogram.

TANAMAN OBAT GINSENG MERAH KOREA

Ginseng merah memang lebih sulit ditanam dan langka. Salah satu tempat yang menjadi rumah bagi tanaman ginseng adalah Punggi, Korea. Tanaman ini cocok tumbuh di sana karena berada di ketinggian 400-500 meter di atas permukaan laut, tanahnya subur, dan beriklim sejuk.

Dari proses penanaman, ginseng merah membutuhkan waktu enam tahun agar bisa dipanen. Semakin tua ginsengnya, semakin baik kualitasnya. Alasannya, pada usia enam tahun ke atas, ginseng merah baru mengandung saponin dan ginsenosida dalam level tinggi.

AKAR GINSENG MERAH, RED GINSENG AKAR


Akar ginseng diketahui mengandung ginsenosida hingga 15 persen. Ginsenosida adalah senyawa yang mengatur kerja kelenjar pituitari dan adrenalin. Sementara ginseng kapsul, obat, atau tonik biasanya hanya mengandung 1,5 persen. 
GINSENG MERAH, RED GINSENG, KASIAT GINSENG MERAH

Ginseng merah juga mengandung saponin, zat alami yang mengandung fitokemikal terkonsentrasi. Komponen ini merupakan bagian alami dari sistem imun tumbuhan dan membantu mengaktivasi fungsi seluler tubuh.

GINSENG MERAH, RED GINSENG, CIRI CIRI GINSENG MERAH
Bicara tentang khasiat ginseng, yang langsung terpikir adalah herbal yang berkhasiat sebagai antiimpotensi. Ternyata hal tersebut bukan mitos. Dalam studi yang dimuat di American Journal of Urology, sebanyak 45 pria diuji untuk mengetahui manfaat ginseng merah terhadap kemampuan ereksi mereka. Sebagian diberi ginseng asli, sebagian lagi hanya diberi pil placebo (tidak punya zat aktif).

Mereka yang mendapat ginseng asli mengonsumsi 900 mg tiga kali sehari, selama delapan bulan. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi ginseng punya perkembangan signifikan terhadap gangguan ereksinya.

bibit ginseng merah, bibit red ginseng, biji ginseng merah, bibit ginsengmerah
Add caption
Studi lain yang dimuat Insitut Kesehatan Nasional mencatat bahwa ginseng merah mampu meningkatkan fungsi seksual wanita tanpa efek samping berbahaya.